ONTOLOGI DAKWAH ISLAMIYAH
Pengertian.
Secara bahasa kata ontologi dibagi menjadi dua yaitu ontos: sesuatu yang berwujud, dan logos: ilmu atu teori. Secara istilah adalah ontologi adalah ilmu teori tentang wujud hakikat yang ada.
Maka ontologi dalam Dakwah Islam adalah pemahaman atau pengkajian tentang wujud hakikat dakwah Islam dari segi hakikat dakwah islam dalam mengkaji problem ontologism dakwah yang juga menjadi perhatian filsafat dakwah selain ilmu-ilmu lainnya.
Secara bahasa kata ontologi dibagi menjadi dua yaitu ontos: sesuatu yang berwujud, dan logos: ilmu atu teori. Secara istilah adalah ontologi adalah ilmu teori tentang wujud hakikat yang ada.
Maka ontologi dalam Dakwah Islam adalah pemahaman atau pengkajian tentang wujud hakikat dakwah Islam dari segi hakikat dakwah islam dalam mengkaji problem ontologism dakwah yang juga menjadi perhatian filsafat dakwah selain ilmu-ilmu lainnya.
B. Obyek Kajian Ontologi Dakwah
Filsafat ta meta ta physika menurut Aristoteles berpusat pada to on hei on artinya: pengada-sekedar pengada (a being as beiang). Kata on dalam bahasa Yunani merupkan bentuk netral dari oon dengan bentuk genetifnya ontos dan kata itu merupkan bentuk partisipatif dari kata kerja einei (‘ada’ atau ‘mengada’), jadi berarti ‘yang ada’, atau ‘mengada.
Atas dasar pengertian mengenai metafisika di atas, maka yang menjadi obyek material bagi ontologi dakwah ialah segala yang ada dan yang mungkin ada dalam dakwah. Oleh karena yang menjadi obyek material dakwah adalah ”segala hal yang ada dan yang mungkin ada” maka yang ada dalam obyek materialitas dakwah itu ialah ”Tuhan, manusia, dan infrahuman”. Yakni Allah, sebagai obyek materi yang non materi. Ia dipelajari; tetapi tidak bersifat ”material” da’i, mad’u, pesan dakwah, metode dakwah, media dakwah, dan peneliti dakwah. Peneliti dakwah sebagai pengada dakwah yang di ’sana’. Dari peneliti dakwah ini, faktisitas dakwah diangkat dan dibentangkan. Atau dalam suatu bentuk definisi; dapat dinyatakan bahwa; dakwah ialah suatu gejala di mana terdapat dua orang atau lebih yang salah satunya menyampaikan pesan amar ma’ruf nahi munkar.
EPISTEMOLOGI DALAM ISLAM
Pengertian.
Kata epistemologi dari bahasa yunani, episteme (pengetahuan, ilmu pengetahuan) dan logos (pengetahuan, informasi). Dapat dikatakan, pengetahuan tentang pengetahuan. Adakalanya disebut “teori pengetahuan”. Dalam kamus ilmiah popular juga diterangkan bahwa epistemologi termasuk cabang dari filsafat yang menyelidiki sumber serta kebenaran pengetahuan, Dan dakwah dilihat dari segi bahasa yang berarti mengajak, dan secara istilah mengajak manusia kepada jalan yang diridhoi allah.
Dari dua pengertian diatas maka epistimologi dakwah adalah kajian filosofis tentang terhadap sumber, metode, esensi, dan validitas (kebenaran ilmu) dakwah. Sumber menjelaskan asal usul ilmu dakwah, sedangkan metode menguraikan cara memperoleh ilmu tersebut dari sumbernya.
Epistimologi adalah teori pengetahuan, “episteme”artianya pengetahuan/ kebenaran; “logos” artinya teori/ ilmu(kedua term tersebut berasal dari bahasa Yunani), menyelidika keaslian pengetahuan, struktur, metode dan validitas pengetahuan. Pengetahuan adalah suatu hasil dari proses tindakan manusia dengan melibatkan seliruh keyakinan yang berupa kesadaran dalam menghadapi objek yang ingin diketahuinya. Ada juga yang berpendapat bahwa pengetahuan/epistimologi adalah cabang dari filsafat yang membahas persoalan apa dan bagaiman cara seseorang memperoleh pengetahuan dan merupakan bagian dari filsafat tetang reffleksi manusia atas kenyataan yang menguraikan metode ilmiah sesuai dengan hakikat pengertian manusia.
Dalam pencarian kebanaran manusia melakukan upaya transendensi, merupakan kiasan dari bagaimana manusia membuka pintu kebenaran tahap demi tahap, dari tingkat semu (inderawi, naluri, imajinasi) menuju kepemahaman(hati nurani) kemudian menuju tingkat lebih sempurna(akal-rasional)dan dilanjutkan kependakian tertinggi ditingkat ma’rifat ilmu yakni menemukan kebenaran tertinggi(Allah SWT).
Secara keilmuan epistimologi mempunyai kedudukan yang sesungguhnya jauh lebih mendasar yakni dasar kebenaran pengetahuan dari akarnya sampai melewati dimensi fisiknya.
Perbedaan antara epistimologi, metodologi dan logika terletak pada cakupan pengertiannya. Epistimologi berkaitan dengan teori pengetahuan pada umumnya, sehingga memiliki pengertian yang paling luas. Tercakup dalam pengertian tersebut adalah metodologi. Metodologi tidak lebih dari kajian-kajian mengenaia tata cara dan teknik-teknik ilmiah untuk memperoleh sebuah jenis pengetahuan, yitu pengetahuan ilmiah. Sebagai dari tata cara tersebut adalah logika. Logika adalah salah satu jenis dari metode ilmiah yang terdiri dari azas-azas dan aturan –aturan penyimpilan yang sah.
AKSIOLOGI DALAM ISLAM
Pengertian.
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang berarti sesuai atau wajar. Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, social dan agama. Sistem mempunyai rancangan bagaimana tatanan, rancangan dan aturan sebagai satu bentuk pengendalian terhadap satu institusi dapat terwujud.
Menurut Richard Bender : Suatu nilai adalah sebuah pengalaman yang memberikan suatu pemuasan kebutuhan yang diakui bertalian dengan pemuasan kebutuhan yang diakui bertalian, atau yang menyummbangkan pada pemuasan yang demikian. Dengan demikian kehidupan yang bermanfaat ialah pencapaian dan sejumlah pengalaman nilai yang senantiasa bertambah.
Aksiologi ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, pada umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan. Di Dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah-masalah nilai yang khusus seperti epistimologis, etika dan estetika. Epistimologi bersangkutan dengan masalah kebenaran, etika bersangkutan dengan masalah kebaikan, dan estetika bersangkutan dengan masalah keindahan.
Secara etimologis, istilah aksiologi berasal dari Bahasa Yunani Kuno, terdiri dari kata “aksios” yang berarti nilai dan kata “logos” yang berarti teori. Jadi aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari nilai.
Aksiologi adalah abang filsafat yang mempelajari cara-cara yang berbeda dimana sesuatu hal dapat baik atau buruk (baca: mempunyai akibat positif atau negatif) dan hubungan nilai dengan menilai di satu pihak dan dengan fakta-fakta eksistensi obyektif di pihak lain. Aksiologi adalah teori tentang nilai dalam berbagai makna yang dikandungnya.
Tujuan dasar ilmu menurut beberapa ahli tidak selalu sama. Seperti dikutip Muslim A Kadir, Fred Kerlinger berpendapat bahwa tujuan dasar ilmu hanyalah menjelaskan realitas (gejala yang ada), bagin bronowsky, tujuan ilmu adalah menemukan yang benar sedangkan menurut Mario Bunge, tujuan ilmu lebih dari sekadar menemukan kebenaran. Tujuan dasar ilmu dakwah, dengan merujuk pada beberapa ayat al-Quran yang relevan, adalah untuk
1. Menjelaskan realitas dakwah sebagai suatu kebenaran
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda(kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Quran itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?(QS 41:53)
2. Mendekatkan diri kepada Allah sebagai kebenaran
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku(QS.51:56)
3. Merealisasikan kesejahteraan untuk seluruh alam (Rahmat li al-Alamin)
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam(QS.21:107).
Menurut Richard Bender : Suatu nilai adalah sebuah pengalaman yang memberikan suatu pemuasan kebutuhan yang diakui bertalian dengan pemuasan kebutuhan yang diakui bertalian, atau yang menyummbangkan pada pemuasan yang demikian. Dengan demikian kehidupan yang bermanfaat ialah pencapaian dan sejumlah pengalaman nilai yang senantiasa bertambah.
Aksiologi ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, pada umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan. Di Dunia ini terdapat banyak cabang pengetahuan yang bersangkutan dengan masalah-masalah nilai yang khusus seperti epistimologis, etika dan estetika. Epistimologi bersangkutan dengan masalah kebenaran, etika bersangkutan dengan masalah kebaikan, dan estetika bersangkutan dengan masalah keindahan.
Secara etimologis, istilah aksiologi berasal dari Bahasa Yunani Kuno, terdiri dari kata “aksios” yang berarti nilai dan kata “logos” yang berarti teori. Jadi aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari nilai.
Aksiologi adalah abang filsafat yang mempelajari cara-cara yang berbeda dimana sesuatu hal dapat baik atau buruk (baca: mempunyai akibat positif atau negatif) dan hubungan nilai dengan menilai di satu pihak dan dengan fakta-fakta eksistensi obyektif di pihak lain. Aksiologi adalah teori tentang nilai dalam berbagai makna yang dikandungnya.
Tujuan dasar ilmu menurut beberapa ahli tidak selalu sama. Seperti dikutip Muslim A Kadir, Fred Kerlinger berpendapat bahwa tujuan dasar ilmu hanyalah menjelaskan realitas (gejala yang ada), bagin bronowsky, tujuan ilmu adalah menemukan yang benar sedangkan menurut Mario Bunge, tujuan ilmu lebih dari sekadar menemukan kebenaran. Tujuan dasar ilmu dakwah, dengan merujuk pada beberapa ayat al-Quran yang relevan, adalah untuk
1. Menjelaskan realitas dakwah sebagai suatu kebenaran
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda(kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Quran itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?(QS 41:53)
2. Mendekatkan diri kepada Allah sebagai kebenaran
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku(QS.51:56)
3. Merealisasikan kesejahteraan untuk seluruh alam (Rahmat li al-Alamin)
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam(QS.21:107).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar