Makna Kesalehan
Dalam Islam
Akhir-akhir ini
sering kita mendengar dari kalangan kaum Muslim, sementara orang yang
mempersoalkan secara dikotomis tentang kesalehan. Seolah-olah dalam Islam
memang ada dua macam kesalehan: “kesalehan ritual” dan “kesalehan sosial”.
Dengan
“kesalehan ritual” mereka menunjuk perilaku kelompok orang yang hanya
mementingkan ibadat mahdlah, ibadat yang semata-mata berhubungan dengan Tuhan
untuk kepentingan sendiri. Kelompok yang sangat tekun melakukan sholat, puasa,
dan seterusnya; namun tidak peduli akan keadaan sekelilingnya. Dengan ungkapan
lain, hanya mementingkan hablum minallah.
Sedangkan yang
mereka maksud dengan “kesalehan sosial” adalah perilaku orang-orang yang sangat
peduli dengan nilai-nilai Islami, yang bersifat sosial. Suka memikirkan dan
santun kepada orang lain, suka menolong, dan seterusnya; meskipun orang-orang
ini tidak setekun kelompok pertama dalam melakukan ibadat seperti sembayang dan
sebagainya itu. Lebih mementingkan hablun minan naas.
Boleh jadi hal
itu memang bermula dari fenomena kehidupan beragama kaum Muslim itu sendiri,
dimana memang sering kita jumpai sekelompok orang yang tekun beribadat, bahkan
berkali-kali haji misalnya, namun kelihatan sangat bebal terhadap kepentingan
masyarakat umum, tak tergerak melihat saudara-saudaranya yang lemah tertindas,
misalnya. Seolah-olah Islam hanya mengajarkan orang untuk melakukan hal-hal
yang dianggapnya menjadi hak Allah belaka. Sebaliknya juga, sering dijumpai
orang-orang Islam yang sangat concern terhadap masalah-masalah ummat, sangat memperhatikan
hak sesamanya, kelihatan begitu mengabaikan “ibadat pribadinya”.
Padahal
semuanya tahu tentang hablun minallah dan hablun minannas. Semuanya membaca
ayat, “Udkhuluu fis silmi kaffah !” tahu bahwa kesalehan dalam Islam secara
total !” Masak mereka ini tidak tahu bahwa kesalehan Islam pun mesti komplit,
meliputi kedua kesalehan itu.
Dan bagi mereka
yang memperhatikan bagaimana Nabi Muhammad saw. Berpuasa,dan saat beliau
memberi petunjuk bagaimana seharusnya orang melaksanakan puasa yang baik,
niscaya tak akan ragu-ragu lagi akan ajaran yang memperlihatkan kedua aspek
tersebut sekaligus. Dengan kata lain, takwa yang menjadi sasaran puasa kaum
Muslim, sebenarnya berarti kesalehan total yang mencakup “kesalehan ritual” dan
“kesalehan sosial”. Kecenderungan perhatian sesorang terhadap salah satunya,
tidak boleh mengabaikan orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar