TASAWUF ISLAM
Pengertian tasawuf
Seiring perkembangan zaman , semakin banyak masyarakat modern salah
memahami tasawuf, bahkan sebagian umat islam beranggapan tasawuf bertentangan
dengan ajaran islam dan tidak ada dasarnya dalam syariat.
Memang istilah tasawuf tidak di kenal di jaman Rasulullah SAW namun
demikian hakikat tasawuf adalah hakikat Islam, karena antara syariat dan
tasawuf tak dapat di pisahkan , sementara di sisi lain banyak masyarakat yang
memunculkan istilah tasawuf yang meng ingkari syariat syariat Islam dam membuat
aturan sendiri , seraya meng klim punya otoritas agung yang ahistoris dan yang
demikian itu dapat kita sebut sebagai sufi gadungan ( mustashwifah ).
Tapi sangat di sayangkan , banyak penentang tasawuf yang
mengaburkan antara sufi dan sufi gadungan dengan tujuan merendahkan tasawuf ,
dan pada akhir nya tasawuf di anggap sebagai ajaran sesat , jika ini di biarkan
maka akan terjadi pertentangan dalam tubuh umat Islam yang sudah tentu
merugikan ummat Islam
Padahal tujuan dari ajaran tasawuf adalah membersihkan hati dari
kecendrungan yang buruk dan perbuatan yang melanggar syariat dalam rangka
menuju kesempurnaan akhlak dengan menjadikan rosulullah SAW sebagi suri
tauladan yang sempurna.
Karena itu perlu kita sadari bahwa di hatilah letak keikhlasan,
contoh sholat , secara syariat kita dapat melaksanakan sesuai dengan dalil
dalil yang ada, disisi lain kekhusyuan kita terletak di hati, hanya kita dan
Allah SWT yang lebih tahu apa tujuan kita sholat dan seberapa khusyu sholat
kita.
Banyak sekali definisi tasawuf yang telah dikemukakan, dan
masing-masing berusaha menggambarkan apa yang dimaksud dengan tasawuf. Tetapi
pada umumnya definisi yang dikemukakan hanya menyentuh sebagian dari
keseluruhan bangunan tasawuf yang begitu besar dan luas.
Definisi-definisi yang
dikemukakan sama dengan yang dilakukan empat orang buta, dalam kisah Rumi,
ketika mereka menggambarkan bentuk gajah. Masing-masing menggambarkan bentuk
gajah sesuai dengan bagian tubuh yang disentuhnya. Bagi yang pertama, bentuk
gajah seperti mahkota, bagi yang kedua seperti pipa air, bagi yang ketiga,
seperti kipas, dan bagi yang terakhir seperti tiang.
Imam al-Qusyairi dalam al-Risalah-nya mengutip 50 definisi dari
ulama Salaf; sementara Imam Abu Nu'aim al-Ishbahani dalam "Ensiklopedia
Orang-Orang Suci"-nya Hikayat al-awliya' mengutip sekitar 141 definisi,
antara lain:
"Tasawuf adalah bersungguh-sungguh melakukan suluk yaitu
perjalanan' menuju malik al muluk `Raja semua raja' (Allah `azza wa
jalla)."
"Tasawuf adalah mencari wasilah 'alat yang menyampaikan' ke
puncak fadhilah 'keutamaan'."
Definisi paling panjang yang dikutip Abu Nu'aim berasal dari
perkataan Imam al-Junaid ra. ketika ditanya orang mengenai makna tasawuf:
"Tasawuf adalah sebuah istilah yang menghimpun sepuluh makna:
1. tidak terikat dengan
semua yang ada di dunia sehingga tidak berlomba- lomba mengerjarnya.
2. Selalu bersandar kepada
Allah `azza wa jalla,.
3. Gemar melakukan ibadah
ketika sehat.
4. Sabar kehilangan dunia
(harta).
5. Cermat dan berhati-hati
membedakan yang hak dan yang batil.
6. Sibuk dengan Allah dan
tidak sibuk dengan yang lain.
7. Melazimkan dzikir khafi
(dzikir hati).
8. Merealisasikan rasa
ikhlas ketika muncul godaan.
9. Tetap yakin ketika muncul
keraguan dan
10. Teguh kepada Allah dalam
semua keadaan. Jika semua ini berhimpun dalam diri seseorang, maka ia layak
menyandang istilah ini; dan jika tidak, maka ia adalah pendusta. [Hilayat
al-Awliya]
Beberapa fuqaha 'ahli fikih'
juga mengemukakan definisi tasawuf dan mengakui keabsahan tasawuf sebagai ilmu
kerohanian Islam. Di antara mereka adalah: Imam Muhammad ibn Ahmad ibn Jazi
al-Kalabi al-Gharnathi (w. 741 H.) dalam kitabnya al Qawanin al Fiqhiyyah li
Ibn Jazi hal. 277 menegaskan:
"Tasawuf masuk dalam
jalur fiqih, karena ia pada hakikatnya adalah fiqih batin (rohani), sebagaimana
fiqih itu sendiri adalah hukum-hukum yang berkenaan dengan perilaku
lahir."
Imam `Abd al-Hamid al-Syarwani, dalam kitabnya Hawasyi al-Syarwani
juz VII, menyatakan: "Ilmu batin (kerohanian), yaitu ilmu yang mengkaji
hal ihwal batin (rohani), yakni yang mengkaji perilaku jiwa yang buruk dan yang
baik (terpuji),itulah ilmu tasawuf."
Imam Muhammad `Amim al-Ihsan dalam kitabnya Qawa'id al-Fiqih,
dengan mengutip pendapat Imam al-Ghazali, menyatakan:
"Tasawuf terdiri atas dua hal: Bergaul dengan Allah secara
benar dan bergaul dengan manusia secara baik. Setiap orang yang benar bergaul
dengan Allah dan baik bergaul dengan mahluk, maka ia adalah sufi."
Definisi-definisi tersebut pada dasarnya saling melengkapi satu
sama lain, membentuk satu kesatuan yang tersimpul dalam satu ikatan:
"Tasawuf adalah perjalanan menuju Tuhan melalui penyucian jiwa yang
dilakukan dengan intensifikasi dzikrullah".
Penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs) merupakan ruh dari takwa,
sementara takwa merupakan sebaik-baik bekal (dalam perjalanan menuju Allah),
sehingga dikatakan oleh Imam Muhammad Zaki Ibrahim, pemimpin tarikat sufi
Al-Asyirah Al-Muhammadiyyah di Mesir, bahwa "tasawuf adalah takwa. Takwa
tidak hanya berarti "mengerjakan semua perintah Allah dan meninggalkan
semua larangan-Nya. Takwa juga meliputi "cinta, ikhlas, sabar, zuhud,
qana'ah, tawadhu', dan perilaku-perilaku batin lainnya yang masuk ke dalam
kategori makarim al-akhlaq (alkhlak yang mulia) atau al-akhlaq al-mahmudah
(akhlak yang terpuji)".
Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila tasawuf juga sering
didefinisikan sebagai akhlak, yaitu akhlak bergaul dengan Allah dan akhlak
bergaul dengan semua makhluk-Nya. Imam Muhammad ibn `Ali al-Kattani, sebagaimana
dikutip oleh Imam al-Qusyairi dalam al-Risalah-nya, menegaskan bahwa
"tasawuf adalah akhlak". Imam Abu Nu'aim al-Ishbahani juga mengutip
definisi senada dalam Hilyat al-Awliya-nya:
"Tasawuf adalah berakhlak dengan akhlak (orang-orang )
mulia."
Definisi terakhir di atas sejalan dengan keberadaan Nabi SAW yang
diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia sebagaimana ditegaskan oleh
beliau sendiri dalam sebuah sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibn
Hanbal
"Sesungguhnya aku
diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang baik." Para perawi hadis ini
adalah para perawi sahih (rijal al-shahih). (Majma' al-Zawaid, juz VIII
hal.188)
Akhlak itu sendiri merupakan perilaku batin yang melahirkan
berbagai perbuatan secara otomatis tanpa melalui pertimbangan yang disengaja,
atau dalam definisi Imam al-Ghazali diungkapkan dengan redaksi: "Akhlak
merupakan ungkapan tentang kondisi yang berakar kuat dalam jiwa; dari kondisi
itu lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikirkan
dan pertimbangan."
Apa pun definisi yang
dikemukakan para ulama mengenai tasawuf, satu hal pasti adalah bahwa tasawuf
merupakan sisi rohani Islam yang sangat fundamental dan esensial; bahkan ia
merupakan inti ajaran yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul.
Pernyataan Imam Muhammad Zaki Ibrahim barangkali sudah cukup
sebagai penjelasan terakhir: "Meskipun terdapat perbedaan pendapat
mengenai definisi tasawuf, semua definisi yang ada mengarah kepada satu titik
yang sama, yaitu taqwa dan tazkiyah. Tasawuf adalah hijrah menuju Allah SWT,
dan pada hakikatnya semua definisi yang ada bersifat saling melengkapi."
(Abjadiyyah al-Tashawwuf al-Islami, atau Tasawuf Salafi, hal 7)
Tidak satu definisi-pun yang mampu menggambarkan secara utuh apa
yang disebut dengan tasawuf. Demikian pula, tidak ada satu penjelasan pun yang
mampu menggambarkan apa yang disebut denga ihsan 'beribadah seolah-olah melihat
Allah', karena hal itu menyangkut soal "rasa dan pengalaman" bukan
"penalaran atau pemikiran". Pemahaman yang utuh mengenai tasawuf dan
sekaligus ihsan hanya muncul setelah seseorang "mengalami" dan tidak
sekadar "membaca" definisi-definisi yang dikemukakan orang.
Tasawuf berpangkal pada pribadi Nabi Muhammad SAW. gaya hidup
sederhana, tetapi penuh kesungguhan. Akhlak Rasul tidak dapat dipisahkan serta
diceraikan dari kemurnian cahaya Alquran. Akhlak Rasul itulah titik tolak dan
garis perhentian cita-cita tasawuf dalam Islam itu.
Dhunnun al-Misri, seorang sufi yang terkemuka, mengatakan bahwa
yang dimaksud dengan tasawuf ialah pembebasan dari ragu dan putus asa, kemudian
tegak berdiri beserta yakin iman. Pengertian yang simpang siur tentang urat
bahasa sufi dan tasawuf menimbulkan pengiraan bahwa tasawuf Islam mencakup pula
bahan-bahan sufi Yunani dan mistik, serta Hindu Farsi. Pandangan tersebut
merupakan pengiraan yang keliru dan mengelirukan. Terlepas dari adanya
pengakuan jujur tentang adanya persamaan yang tampak lahirnya, ataupun mengenal
istilah-istilah dan cara-cara melatih jiwa. Di dalam tasawuf Islam ditemukan
ciri-ciri yang istimewa; yaitu pengembalian dengan cara mutlak segala persoalan
agama dan kehidupan kepada Alquran dan Sunnah.
Al-Junaid, penghulu sufi
Islam, di dalam redaksi yang bermacam-macam menegaskan bahwa yang mungkin
menjadi ahli tasawuf itu hanyalah barang siapa yang mengetahui keseluruhan
Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW. Karena itu yang sebenarnya tasawuf adalah
kefanaan diri ke dalam kemurnian Alquran dan Sunnah.
• Pengertian Tareqat •
Secara terminologi (istilah)
tarekat yang berasal dari kata thariqah itu mula-mula berarti jalan yang harus
ditempuh seorang calon sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kemudian
ia digunakan untuk menunjuk suatu metode psikologi moral untuk membimbing
seseorang mengenal Tuhan. Tarekat dalam pengertian inilah yang digunakan dalam
karya al-Junayd, al-Hallaj, al-Sarraj, al-Hujwiri, dan al-Qushayri. Melalui
jalan itu seseorang dengan menempuh berbagai tingkatan psikologis dalam
keimanan dan pengamalan ajaran Islam dapat mencapai pengetahuan tentang Tuhan
dari satu tingkatan ke tingkatan yang lebih tinggi, sehingga akhirnya ia
mencapai realitas (hakikat) Tuhan yang tertinggi.
Tarekat adalah suatu metode
praktis dalam membimbing murid dengan menggunakan pikiran, perasaan, dan
tindakan melalui tingkatan-tingkatan secara berurutan untuk merasakan hakikat
Tuhan. Tarekat adalah jalan yang harus ditempuh seorang calon sufi agar berada
sedekat mungkin dengan Allah.
Berdasarkan uraian itu maka
dapat disimpulkan bahwa tarekat adalah jalan yang ditempuh murid agar berada
sedekat mungkin dengan Tuhan di bawah bimbingan guru (mursyid).
• Perkembangan Tareqat •
Di Indonesia kita lebih
banyak mengenal ajaran tasawuf lewat lembaga keagamaan non-formal yang namanya
tarekat. Di Jawa Timur misalnya, kita jumpai Thariqah Qadiriyah yang cukup
dikenal, disamping Thariqah Naqsabandiyah, Syadziliyah, Tijaniyah, dan
Sanusiyah. Dalam satu dasawarsa terakhir ini, kita melihat adanya langkah lebih
maju dalam perkembangan tarekat-tarekat tersebut dengan adanya koordinasi antara
berbagai macam tarekat itu lewat ikatan yang dikenal dengan nama Jam'iyah
Ahlal-Thariqah al-Mu'tabarah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar